ideand.and

hello!

hati-hati jajan ketika siraru menyerang, pedagang sulit membedakan siraru dan bawang goreng. :)

—me

keren banget!
teknologi dapet, local content nya dapet!
:O

online!

bisa online, bisa posting lagi.. :D

Apalah arti 22 taun kalo masih juga dibangunin sama Ibu

  • Saya: (Bangun tidur, masih lulungu, update twitter, mencoba membangun semangat patriotis)"Selamat pagi! Hari ini akan menjadi hari yang panjang. YOSH!"
  • Ibu: Riii, bangun riii, geus beuraaang!
  • Saya: ...hmmm ok

atjiethink:

atjiethinkandfeel:

It’s almost finished ! wish me luck guys !

BIG THANKS for family and friends, also anand yang jagoan :)

prosesnya masih lumayan buat ke garis finish, semoga ajaaa semogaaaaa semogaaa dimudahkan dan diberi kekuatan oleh Allah, supaya saya bisa menyajikan karya yang memuaskan :)

Waktu lagi ujian; kita melihat atas untuk mencari inspirasi, kita melihat bawah karena depresi & kita lihat kanan kiri untuk mencari informasi

—dari anggaa | (@angga1402)

(Source: fuckyeahmahasiswa)

utara:

ayuprissa:
Pemenang Utama Anugerah Pewarta Foto Indonesia Tahun 2011 oleh Maman Sukirman.
Foto diambil pada tanggal 9 Desember 2010 ketika terjadi bentrokan antara mahasiswa Universitas Muslim Indonesia, Makassar dengan aparat kepolisian pada demonstrasi peringatan Hari Anti Korupsi.
 
Daeng Naba yang menjadi objek foto di atas adalah lekaki tua yang sehari-hari berlalu lalang di depan kampus hijau itu. Setiap hari, dia berjalan tanpa kenal lelah mencari nafkah, terkadang memungut sampah plastik untuk kemudian dijual kembali atau mendapat uang pesangon dari mahasiswa yang melihatnya.
Hari itu dia juga berjalan seperti biasa, tanpa merasa terganggu karena memang itu rutenya. Namun naas, hari itu ternyata jalurnya berubah menjadi perang. Karena terlanjur genjatan senjat pecah,  –mahasiswa melempari polisi, polisi membalas dengan gas air mata dan semprotan air– mau tak mau kakek tua ini harus berlindung.
Menurut kesaksian Maman, saat itu, Daeng Naba berjalan biasa saja, seketika mendengar letusan senjata, kakek tua ini sontar kaget. Berjalan diatas lumpur –pelebaran jalan– dia lalu melepas sendal jepitnya, mungkin karena matanya perih, dia lalu merangkak mengendur-endus diatas lumpur mencari perlindungan hingga ia temukan cangkang eskapator.
Berselang beberapa detik saja, kakek tua ini berlindung, perang sesunggunya terjadi. Maman yang saat itu berada disudut tidak luput pula imbas dari kejadian itu. Dia terkena semprotan air dan gas air mata. Kameranya penuh dengan lumpur. Maman pun mengakui sempat terjatuh saat bentrokan itu pecah.
Kakek tua yang sempat ia abadikan dalam beberapa scane, saat kejadian itu tak bisa lagi ia lindungi. Setelah beberapa saat kemudian ia mendapat posisi aman, dia kembali menengok kakek tua itu, tapi ternyata sudah diselamatkan oleh warga agar menepi dari bentokan.
Kakek tua itu terlihat trauma, mungkin dia beranggapan kembali ke perang saat kemerdekaan lagi, padahal beda. Perang yang baru saja ia lalui adalah perang tanpa ujung pangkal. Entah esensinya apa, dan dia harus bertindak seperti apa. Seperti masyarakat kebanyakan yang bingung, harus memihak siapa, polisi yang menengakkan keamanan atau mahasiswa yang berjuang atas nama masyarakat.
Itulah Maman, berkat fotonya, kembali menyadarkan kita bahwa banyak pihak diluar sana yang akan terkena imbas langsung dari keegoisan kita –kita semua yang berjuang atas nama kelompok, baik pemerintah, mahasiswa, partai atau organisasi lain– meraka tidak tahu masalah yang dijadikan peperangan, orang-orang seperti Daeng Naba cuma ingin tahu, hari ini harus makan apa.
(sumber: kompasiana)

utara:

ayuprissa:

Pemenang Utama Anugerah Pewarta Foto Indonesia Tahun 2011 oleh Maman Sukirman.

Foto diambil pada tanggal 9 Desember 2010 ketika terjadi bentrokan antara mahasiswa Universitas Muslim Indonesia, Makassar dengan aparat kepolisian pada demonstrasi peringatan Hari Anti Korupsi.

Daeng Naba yang menjadi objek foto di atas adalah lekaki tua yang sehari-hari berlalu lalang di depan kampus hijau itu. Setiap hari, dia berjalan tanpa kenal lelah mencari nafkah, terkadang memungut sampah plastik untuk kemudian dijual kembali atau mendapat uang pesangon dari mahasiswa yang melihatnya.

Hari itu dia juga berjalan seperti biasa, tanpa merasa terganggu karena memang itu rutenya. Namun naas, hari itu ternyata jalurnya berubah menjadi perang. Karena terlanjur genjatan senjat pecah,  –mahasiswa melempari polisi, polisi membalas dengan gas air mata dan semprotan air– mau tak mau kakek tua ini harus berlindung.

Menurut kesaksian Maman, saat itu, Daeng Naba berjalan biasa saja, seketika mendengar letusan senjata, kakek tua ini sontar kaget. Berjalan diatas lumpur –pelebaran jalan– dia lalu melepas sendal jepitnya, mungkin karena matanya perih, dia lalu merangkak mengendur-endus diatas lumpur mencari perlindungan hingga ia temukan cangkang eskapator.

Berselang beberapa detik saja, kakek tua ini berlindung, perang sesunggunya terjadi. Maman yang saat itu berada disudut tidak luput pula imbas dari kejadian itu. Dia terkena semprotan air dan gas air mata. Kameranya penuh dengan lumpur. Maman pun mengakui sempat terjatuh saat bentrokan itu pecah.

Kakek tua yang sempat ia abadikan dalam beberapa scane, saat kejadian itu tak bisa lagi ia lindungi. Setelah beberapa saat kemudian ia mendapat posisi aman, dia kembali menengok kakek tua itu, tapi ternyata sudah diselamatkan oleh warga agar menepi dari bentokan.

Kakek tua itu terlihat trauma, mungkin dia beranggapan kembali ke perang saat kemerdekaan lagi, padahal beda. Perang yang baru saja ia lalui adalah perang tanpa ujung pangkal. Entah esensinya apa, dan dia harus bertindak seperti apa. Seperti masyarakat kebanyakan yang bingung, harus memihak siapa, polisi yang menengakkan keamanan atau mahasiswa yang berjuang atas nama masyarakat.

Itulah Maman, berkat fotonya, kembali menyadarkan kita bahwa banyak pihak diluar sana yang akan terkena imbas langsung dari keegoisan kita –kita semua yang berjuang atas nama kelompok, baik pemerintah, mahasiswa, partai atau organisasi lain– meraka tidak tahu masalah yang dijadikan peperangan, orang-orang seperti Daeng Naba cuma ingin tahu, hari ini harus makan apa.

(sumber: kompasiana)

(via ragilliarach)